Feeds:
Pos
Komentar

Ungkapan ‘Orok Menes mah suka makan sambel’ mungkin sudah tidak asing lagi ditelinga masyarakat Banten. Bahkan ada istilah-istilah lain yang kemudian menjadi sebuah frasa lokal yang menjadi ungkapan sehari-hari masyarakatnya; Semisal kiceup menes dan singset Kananga. Secara bahasa Kiceup Menes memiliki arti kedipan orang Menes. Dari beberapa sumber lisan, istilah tersebut muncul akibat kedipan gadis-gadis menes yang terkenal cantiknya sejak dulu yang membuat pemuda yang melihatnya mabuk kepayang. Sedang Singset Kananga, muncul dari sebuah desa bernama Kananga -secara administratif masuk dalam Kecamatan Menes – mempunyai arti rok yang ditarik ke atas sedikit saat melintasi jalanan becek hingga terlihat putihnya betis gadis Kananga yang memakainya.

‘Orok’ Menes berarti orang Menes atau seseorang yang berasal dari kecamatan Menes, atau bahkan kecamatan lain yang dahulunya masuk dalam Kewedanaan Menes. Walaupun saat di Kecamatan Menes, ‘Orok’ Menes akan mengerucut pada seseorang yang berasal dari sebuah Kampung yang bernama Kampung Menes.

Ungkapan-ungkapan lokal seperti itu memang sangat menarik untuk ditelisik lebih jauh. Tetapi, akar kata ‘Menes’ dan asal-muasal ‘orok’ Menes, seringkali menjadi bagian yang terlupakan untuk dinikmati akar sejarahnya.

Sejarah ‘Menes’

Dari beberapa literature, Terdapat dua peristiwa masa lalu yang mempopulerkan wilayah tersebut menjadi Menes, yang pertama pada tahun 1525/1526 diwilayah tersebut bermukim seorang pedagang rempah-rempah berkebangsaan portugis yang bernama Don Jorge Meneses atau DeMenes. Kemudian yang kedua, kata ‘Menes’ berarti pula tempat atau sebuah pasar untuk bertransaksi hasil perkebunan. Di tempat tersebut terdapat gudang-gudang penampungan rempah-trempah sebelum diangkut ke pelabuhan ekspor. Tempat tersebut di sebut Blok Menes. (Ahmad Hufad dalam bukunya: Identitas Kekerabatan Orang Banten).

Tapi masih dalam buku yang sama, menurut pandangan beberapa tokoh di Menes, bahwa kata Menes bukan kata yang di-adop dari bahasa Portugis, melainkan kata atau bahasa lokal, yakni mones yang berarti aneh atau keanehan. Biasanya kata Mones dirangkai dengan awal ‘ka’ dan akhirna ‘an’ sehingga menjadi kamonesan yang mempunyai arti keanehan, pepandaian, dan keajaiban yang cenderung bermakna khas dan unik. Pendapat tersebut didasarkan dua alasan utama. Pertama karakter orang Menes sangat anti terhadap penjajahan orang Eropa, sehingga sangat kuat kecenderungannya untuk menolak pemakaian unsur bahasa penjajah yang membawa nama identitas komunitasnya. Kedua kuatnya pengaruh ajaran islam terhadap tradisi dan norma hidup dalam masyarakat menes yang mengakar kuat dengan tradisi leluhur, terutama dalam era kesultanan sunda Islam Banten. Sehingga kata Menes diyakini sebagai istilah lokal yang terkait dengan mitos kejayaan leluhurnya yang aneh, ajaib, khas dan unik.

‘Orok’ Menes

Secara garis besar keturunan orang Banten terdiri dari tiga kelompok besar. Yaitu: (1). Garis keturunan Banten darah putih yang tersebar di utara dan selatan; (2). Garis keturunan dari Prabu Brawijaya alias Rd. Alit, yang sebagian besar bermukim di daerah selatan; (3). Garis keturunan percampuran asal Kudus yang bermukim di sepanjang pantai utara antara Karangantu sampai Pontang. (Ahmad Hufad: hal:141)

Kelompok darah putih merupakan trah yang berawal dari perkawinan Ni larasantang (Putri Sribaduga prabu Siliwangi) dengan khalifah dari Arab yang melahirkan maulana mahdum Ibrahim (Syarif Hidayatullah). Syarif Hidayatullah ini kemudian memiliki tiga orang istri, dan memiliki 10 orang keturunan. Dari istri pertama ni Gde Agung Anten (Ni Gde Kawung Anten) inilah lahir Sabakingking atau Hasanudin (sultan pertama di Banten). Kemudian dari istri kedua Putri Bintara lahir Pangeran Muhamad Asih yang kelak menurunkan tiga orang sultan di Cirebon. Sedang dari istri ketiga Ampean, keturunannya yaitu Tubagus Syarif Husen.

Sedangkan keturunan Brawijaya atau Rd. Alit berawal dari Aria Bali, Aria Taba, Dalem Wali Hakim, Tjili Dalem, Kiyai Sarpi’ah, dan Tumenggung Wanasaba. Prabu Brawijaya memiliki 7 orang putra, yaitu: Rd. Gugur, Rd Djarah Panoli, Rd Lembupetang, Rd. Bondan Kadjawan, Rd. Acia Damar, Rd. Tarub, dan Rd. Fatah.

Rd. Jamparing atau Rd. Rangga Wiranegara atau Rd. Entol Rangga Maospati, sebagai moyang yang dibanggakan orang Menes, merupakan keturunan keenam dari Prabu Brawijaya. Ia merupakan keturunan dari Rd. Andang terus ke Pangeran Pantjur, dan Rd. Gugur.

Dari penuturan di atas terlihat jelas bahwa ‘orok’ Menes, adalah sebagai sebuah entitas tersendiri dan tidak bersilsilah sampai ke Sultan Hasanudin.  Lalu bagaimana dengan gelar Entol yang tersandang pada beberapa keluarga di Menes, ternyata hal tersebut berkenaan dengan kemonesan (kepandaian dan keanehan) yang diperlihatkan oleh Rd. Jamparing saat berhadapan dengan Sultan Banten. Karena kemonesan-nya itu sultan meberikan gelar Entol di depan namanya.

Penutup

Mempelajari sejarah, silsilah, sistem kekerabatan, ungkapan-ungkapan lokal, dan kearifan lokal lainnya bukan berarti membuat kita semakin mengerucutkan diri pada identitas kesukuan yang berlebihan. Tapi seyogyanya membuat kita lebih memahami norma, sistem nilai, dan budaya yang berlaku dimasyarakat kita, sesuatu yang diperoleh dalam kurun waktu yang sangat panjang sebagai sebuah identitas sosio-kultural.

Akibat arus informasi yang tidak dapat kita bendung lagi membat sistem nilai yang berlaku dimasyarakat dari waktu ke waktu semakin hilang. Setidaknya dengan mempelajari sejarah, akar budaya sendiri, membuat kita tersadar untuk memahami siapa ‘orok’ Menes sesungguhnya? Apakah bayi yang baru lahir yang bisa dihitam putihkan? Ataukah bayi yang memahami dari rahim siapa ia dilahirkan?

 

*Alumni IAIN SMH Banten dan Mengelola Kedai Gepeng di Alun-alun Menes

100 hari sudah engkau pergi, sahabat. Jarak, ruang, dan waktu bukanlah pagar yang bisa memisahkan kita. Karena aku yakin engkau pun sepakat; apalah artinya jarak, ruang dan waktu jika kita punya hati yang selalu bisa berhubungan. Ya hati, hatiku, hatimu, hati kami, dan hati kita. hati yang bisa menciptakan segala macam suasana. Tawa, kecewa, senang, tangis dan bahagia. Seperti tangis kami yang tumpah saat engkau pergi, seperti hujan yang tak berkesudahan, dan kesedihan yang akan terus berkesinambungan sepanjang tahunnya. Saat melihat begitu banyak sahabat yang mengantar kepergianmu, aku tahu engkau bukan lelaki biasa. Lelaki yang telah mencipta surga dihidupnya.
Hari ini, ingin kutuliskan sebuah catan kecil tentangmu, lelaki yang aku kenal sembilan tahun lalu. Lelaki pencinta sejati, lelaki yang tak pernah punya rasa dendam, tak pernah marah, dan selalu menjadi pendengar yang baik dikala kami sedang membutuhkan “tempat sampah” untuk menumpahkan semua keluh kesah. Lelaki itu kamu!

Diakhir 2001 pertamakali aku mengenalmu di depan mading SAMANDA yang menempel di dinding koperasi MAN 2 Serang. K’nas mengenalkanmu padaku. Senyumu yang khas langsung keluar bersamaan dengan jabat tanganmu yang erat. Engkau begitu bersahaja; berambut panjang, bermata sayu, berkaos yang dibalut dengan jacket, dan bercelana jeans. Dan semakin terlihat gagah ketika menunggangi scooter hijau kesayanganmu. Aku pikir engkau Ali Topan, lelaki yang aku jadikan prototype “kelelakianku”.

Waktupun menemani kebersamaan kita begitu lama. Lapangan, aula, DPR (Di bawah Pohon Rindang), ruang kelas, sekretariat OSIS, Redaksi Samanda, dan rerumputan adalah tempat kita bercerita tentang apapun; OSIS, Pasema, Samanda, hidup, dan keinginan. Hehe…ah aku tahu topik menarik untuk memulai percakapan kita: perempuan, ya perempuan yang menjadi gadis impianmu waktu itu! Engkau begitu banyak bercerita tentangnya. Gadis yang engkau cintai yang tak pernah menyambut pasti uluran tanganmu. Ketidakpastian seringkali membuat seseorang limbung dalam mencinta. Tapi engkau tidak. Ketidakpastian tak pernah membuatmu surut untuk terus mencintanya. Ah aku kadang heran, hatimu sebenarnya terbuat dari apa?

Senja tak pernah usai ketika kita mengelilingi kota ini dengan vespa hijaumu. Sepanjang Jl. Abdul Hadi, Yumaga, alun-alun, Ahmad Yani, penancangan, ah aku yakin setiap jengkal kota ini sudah tersimpan tawamu tanpa beban. Kita juga pernah berlarian di pantai Bodur di pesisir Tanjung Lesung, menyambut ombak sambil melempar beberapa baris puisi. Kita juga pernah berlomba sampai ke kawah Gunung pulosari. Tidur beralaskan rumput dan dedaunan, kita juga pernah merasakan bahwa lapar itu tak bisa dituntaskan hanya dengan sebatang rokok, senyum perempuan, sebait lagu atau sepenggal puisi. Lapar ya lapar, setelah itu kau pasti mengajaku pergi. “Ka imah urang un yuk? (ke rumahku Un yuk?) Haha..ini yang kusuka. Beberapa centong nasi dan goreng telor di dapur rumahmu habis kita lahap pada beberapa sore yang lapar. Setelah itu kita pasti bercerita lagi di kamar kecilmu yang tanpa segi sampai mata perlahan tertutup rapat. K Jo, diingatan ini masih terdengar suara halus nafasmu ketika tidur. Dan kita akan terbangun ketika malam menjemput. Sehabis mandi, kita pun bergegas ke sekolah kita lagi. Ah tepatnya sekolahku, karena aku yang masih memakai seragam putih abu-abu sedangkan kau sudah bertitel mahasiswa. Walau tak lagi duduk berseragam sepertiku, tapi tak kuragukan lagi rasa cintamu pada sekolah itu. Entahlah ada apa dengan sekolah itu sehingga engkau begitu sangat mencintanya. Apakah begitu banyak kenangan yang engkau punya? hingga sejauh apapun engkau melangkah, tali-tali itu selalu menarikmu kembali ke sekolah kita. Tapi aku yakin terlampau banyak yang engkau kenang. Seperti aku mengenangmu dalam balutan kelopak rindu. Walau luruh satu-demi satu, tapi rindu itu segera menjadi buah kecil yang akan melahirkan kerinduan berikutnya.

Kenangan adalah romatisme yang tak terelakan. Pun saat-saat kau mengajariku kunci-kunci lagu Ada Apa Dengan Cinta (AADC) yang terkenal itu. saat menyanyikan lagu itu kita seolah-olah jadi Rangga, dan setiap perempuan yang kita suka kita panggil cinta. Kau tetap setia mengajariku lagu itu, padahal suaraku tak pernah sampai pada nada suaranya Melly atau erik. Aku juga masih ingat tentang tragedi karambol yang menghebohkan itu. ketika kita sama-sama harus menembak perempuan-perempuan yang kita tentukan jika kita kalah dalam permainan. Aku, Rafi, K’Andi, dan engkau yang harus menanggung akibat. Sedangkan Furqon bersorak dalam kemenangan.

Tapi ada yang paling aku ingat. Kau pun pasti mengingatnya dengan sangat. Ya, ketika aku menangis di bahumu di bulan puasa itu, selesai kita melepas lelah sehabis LKS. Aku tak kuat saat beban di hati dan fikiranku terasa berat. Maaf saat itu aku menggangu bicara seriusmu dengan gadis impianmu di aula itu. Saat itu engkau menyuruhku terus menangis, karena laki-lakipun pantas untuk menangis. Habis sudah saputanganmu kubasahi dengan ingus dan air mataku. Aku malu sebenanrnya tapi kau meyakinkanku bahwa laki-lakipun berhak malu! Tapi itu yang kita ingat setelah beberapa tahun itu. kita selalu mengenang itu saat kita bertemu.

Diakhir catatan ini aku ingin sekali memohon maaf. Maaf dengan sangat, aku tak pernah bisa membalas setiap kebaikan yang engkau cipta ditahun-tahun kebersamaan kita. Maaf untuk waktu yang tak pernah aku sempatkan demi perbincangan hangat kita. Maaf untuk hal yang tidak pernah aku tahu jika sakitmu sedemikian hebat. Maaf untuk jengukan yang hanya sekali aku lakukan. Sampai aku pun tak sempat menemani ketika Tuhan ingin sekali engkau di dekatNya. Aku tahu orang baik selalu mati muda, karena Tuhan ingin cepat-cepat memeluk kekasihNya dengan erat dan tak ingin dunia menodainya banyak.

Seperti pertanyaan terakhirmu di Rumah Sakit itu. engkau menanyakan siapa pacarku, di suruhnya aku mengenalkannya padamu, sampai aku dilarang untuk menikah terlebih dahulu sebelum engkau. Sambil tersenyum, aku menjawab dengan gelengan dan anggukan. Tapi sekarang, berarti aku sudah boleh menikah K’Jo, karena engkau sudah menikah terlebih dahulu dengan kekasihmu. Untuk pertanyaan pertama dan kedua, ya! Aku pasti akan mengenalkanya padamu suatu hari nanti ketika seseorang yang aku belum tahu siapa, yang akan menjadi ibu yang baik buat anak-anaku kelak siap ku nikahi. Aku akan mengenalkanmu, bahwa di sini, di tanah ini kakak nomor satu kami terbaring dalam istirahatnya yang panjang. Selamat malam k’ Jo!

Serang, 25 Januari 2010

Rasanya cukup lama aku tidak duduk-duduk direrumputan di alun-alun barat kota Serang, sejak alun-alun ini dipaping block dan menyisakan sedikit rumput dan pepohonan di dekat pagar sebelah timur. Malam hari menjadi tempat mengasyikan untuk duduk-duduk disana sambil mendiskusikan ketidaknormalan manusia. Sebenarnya alun-alun di kota ini cukup unik dibandingkan alun-alun dikota-kota yang pernah aku kunjungi. Di sini alun-alunya terbagi dua bagian. Alun-alun sebelah timur dan sebelah barat. Di sebelah timur ada GOR, lapangan Tennis, Jogging track dan lapangan basket. Sedangkan di sebelah barat djadikan sebagai lapangan tempat acara-acara resmi pemerintahan dilaksanakan.

Alun-alun kota ini dikelilingi oleh pusat-pusat pemerintahan, rumah sakit, tempat ibadah dan mall. Disebelah barat terdapat kantor pusat pemerintahan propinsi Banten. Bangunan peninggalan Penjajah Belanda masih berdiri kokoh. Batu-batanya diambil dari reruntuhan keraton Surosowan yang dibumi hanguskan Belanda. Di sebelah timur adalah rumah dinas Makodim, sebelah utaranya adalah gedung pemerintahan kabupaten Serang, kantor DPRD Kabupaten Serang, Kantor Pos, Gereja, dan Mall Serang (dulunya adalah markas KODIM yang termasuk benda cagar budaya, tapi dihancurkan dan digantikan menjadi mall), sebelah selatannya adalah Hotel mahadria, RSUD Serang dan Gedung Juang.
Biasanya di alun-alun di kota-kota yang ada di pulau jawa selalu bergeandengan dengan mesjid agung. Tapi di kota Jawara ini, rumah ibadat yang paling terlihat mentereng adalah gereja. Karena letaknya yang sangata strategis, diapit oleh kantor pos dan mall serang.

Di alun-alun sebelah barat, di rerumputan aku biasa menghabiskan malam-malam, berdiskusi dengan seorang kawan sambil menikmati nasi goreng dan teh hangat. Cukup lama kami duduk-duduk disitu. Beberapa pengamen mencoba menajajakan suaranya dengan nada yang kurang satu oktaf. Lama kelamaan diskusi kami beralih ke pohon beringin yang ada dipojokan itu. Letaknya hanya beberapa langkah saja dari tempa kami duduk. Pohon itu cukup besar memang, tapi tidak sebesar beringin yang berada di kuburan biasa. Tidak seseram pohon difilm-film horor semi porno yang selalu menjadi box office bioskop-bioskop kita. Beberapa pedagang, pengamen, serta orang-orang yang biasa mengkal di alun-alun ini selalu bergantian menghadapkan diri mereka ke pohon itu. Awalnya aku heran dengan apa yang mereka lakukan. Aku kira menyembah-nyembah jin penunggu dan mencari wangsit di pohon itu untuk memperoleh keberuntungan malam ini.
Ternyata tidak seperti yang aku pikirkan, bukan ritual mistis, tetapi ritual biasa yang bisa terjadi pada siapapun ketika merasa ada beban di kantong kemihnya! hehe…

alun-alun serang, 2008

saya merasa jika bahasa yang saya pakai ketika kecil, sedikit demi sedikit tidak pernah dipakai lagi oleh anak-anak zaman sekarang. mereka lebih PD (poek Deuleu) menggunakan bahasa elo gue, sunda priangan atau bahasa indonesia. itu baik, tapi lebih baik kosa-kata yang pernah diucapkan oleh kita sebagai orang sunda banten (sunda pakidulan) turut serta dilestarikan. ada beberapa kosa-kata yang sekarang hampir tidak pernah digunakan oleh kita sebagai penutur asli.  contohnya:

mokla = darah

jamang= baju

orok = panggilan untuk teman, semisal dak atau barudak dalam bahasa sunda priangan.

lengot: lupa

hieum= teduh

dan lain-lain.  disini saya ingin mengembalikan fungsi asal dari bahasa sunda itu sendiri sebagai alat komunikasi, bukan sebagai alat petanda status sosial.

sedikit demi sedikit saya ingin mengumpulkan beberapa kosa kota yang hilang itu, sebagai bentuk pelestarian bahasa itu sendiri. karena musnahnya suatu bahasa, karena tidak ada lagi penuturnya. di tempat ini pula, saya ingin berbagi dengan siapapun, untuk mengingat kembali masa-masa kecil di kampung ketika memakai bahasa itu.

 

 

 

 

Diskriminasi Lulusan: Menyoal Rasa Tanggungjawab Pemprov dan PTAI

Oleh: Rizal Fauzi*

Ada hal yang menarik dari berita demonstrasi yang dilakukan Aliansi Anti Diskriminasi, Banten Raya Post (18/11). Bukan perseteruan cicak dan buaya dikandang singa, atau soal korupsi milyaran di provinsi. Pun bukan soal terminal yang lebih pantas disebut tambak udang daripada terminal “bertitel” kelas A. Tapi soal diskrimansi yang dialami oleh lulusan perguruan tinggi islam, yang dilabeli (I)slam setelah gelar kesarjanaan mereka. Terutama yang dialami oleh Sarjana Hukum (I).

Aksi itu dipicu oleh kebijakan Badan Kepegawaian (BKD) Provinsi Banten yang dianggap diskriminatif karena menolak lamaran CPNS dari Sarjana Hukum (I). Padahal dalam UU nomor 18 tahun 2003 tentang advokat tidak ada perbedaan antara SH dan SH(I).

Hal ini mengingatkan saya pada seorang teman beberapa hari lalu keluar dari kamar kosnya dengan membawa sehelai kertas balasan dari BKD: Jurusan tidak sesuai dengan formasi yang dibutuhkan.

Padahal berkas-berkas sudah dilampirkan dan prosedur pemilihan formasi yang dinginkannya, pun sesuai dengan jurusannya. Yang menjadi salah adalah karena ia membawa-bawa islam di titelnya. Harusnya mungkin ditanggalkan terlebih dahulu (kalau bisa) ketika menyerahkan lamaran, setelah menerima kartu tes, baru disematkan kembali (I)nya.  Ah islam!

Diskriminasi

Awalnya saya juga tidak ingin mengaitkan persoalan ini dengan kata “Islam” yang dilekatkan. Karena isyu yang terlampau sensitif untuk diperbincangkan ditengah bangsa yang plural. Wilayah yang tak perlu dikotak-kotakan sebagai wujud berbangsa, berbahasa dan bertanah air satu: Indonesia! Hal kebangsaan ini yang seharusnya dijadikan landasan oleh BKD dan BKN. Sebagai wujud pelaksanaan UU advokat no 18 tahun 2003, yang semestinya tidak dilawan dengan legalitas formal berbentuk persyaratan dan mengebiri hak-hak warga negara yang dijamin oleh undang-undang.

Tetapi ada hal yang memang harus diperdebatkan dari pernyataan Kepala BKD Provinsi Banten, Acid Syamsuri di koran yang sama. Beliau mengutip pernyataan Badan Kepegawaian nasional (BKN): BKN Menyatakan yang dimaksud adalah SH umum bukan SH Islam.

Ada apa sih antara umum dan islam? Apakah islam tidak umum atau umum tidak islam? Atau karena persoalan dua departemen yang menaungi lembaga pendidikan itu sendiri yang kemudian menjadi pem(di)beda(kan)? Karena dikemudian hari saya pun tidak ingin mendengar bahwa persyaratan penerimaan CPNS Depag yang menaungi Perguruan Tinggi Islam membuat peraturan yang sama; yang diterima hanya SH(I) bukan SH umum!

Tanggungjawab

Persoalan ini tidak akan menjadi bola salju yang akan terus menggelinding jika dari awal-awal sudah disikapi dengan lebih arif oleh pemerintah sebelum persyaratan itu dibuat. Pemerintah dalam hal sebagai pemangku kebijakan harus paham dengan undang-undang yang berkaitan dengan hukum dan perundang-udangan.

Kepekaan ini juga harusnya dimiliki oleh perguruan tinggi sebagai bentuk tanggungjawab terhadap anak didiknya. Tanggungjawab karena telah menarik “retribusi” dan mengeluarkan ijazah. Mahasiswa tidak perlu turun ke jalan untuk meneriakan tuntutan ke pemerintah. Seharusnya perguruan tingginya yang harus mengurusi hal itu. Karena lambat laun, “kecuek bebekan” lembaga perguruan tinggi akan berakibat fatal terhadap kepercayaan masyarakat untuk menitipkan anak-anaknya menuntut ilmu.

Jika saya melihat, “kekurangseriusan” perguruan tinggi Islam mengurusi mahasiswanya seringkali disebabkan oleh banyaknya jabatan yang diemban oleh oleh dosen atau para pejabat kampus di tempat lain. Terutama di lembaga-lembaga di luar kampus; Perguruan Tinggi lain, Yayasan Pendidikan, Majlis Ulama Indonesia (MUI), KPU, BAZDA, serta lembaga-lembaga keagamaan lainnya.

Sedih sekali rasanya ketika lama-lama kuliah tetapi setelah mendapatkan ijazah, orang tua saya bilang:

Wih sue-sue dikuliahaken ijazahe ore laku. Wis lah macul bae ning sawah!

*Kandidat S.Pd(I) IAIN SMH Banten. Redaktur Pelaksana di majalah online http://www.rumahdunia.com

Obama, Perubahan dan Amerikanisasi Indonesia

Oleh: Rizal Fauzi*

Selasa malam(23/01), mata kita semua fokus pada “kotak ajaib” bernama televisi yang sedang menyiarkan pelantikan sang presiden fenomenal abad ini, Barack Hussein Obama, orang kulit hitam pertama yang menjadi presiden ke-44 Amerika Serikat, Negara yang dihujat sekaligus diidolakan; sebagai Negara paling demokrasi, paling menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia (HAM), tetapi tercatat dalam sejarah sebagai bangsa perebut tanah orang-orang Indian dan paling rasial, mengkastakan manusia berdasarkan warna kulit. Sampai perubahan itu dibawa oleh luther king, Jr. Sekarang cita-cita Luther semakin terjawab dengan lahirnya presiden dari kulit hitam pertama; status sosial manusia tidak bisa dikelaskan berdasar warna kulit.

Obama dan Perubahan

Banyak harapan yang dialamatkan pada presiden baru ini. Dengan slogan Change (perubahan), setiap orang yang tinggal diberbagai belahan dunia manapun sangat berharap kepada presiden berdarah Kenya ini bisa merubah peta kebijakan politik luar negeri Amerika yang selama ini cenderung merugikan Negara-negara yang bersebrangan dengan pandangan politiknya, terutama Negara-negara yang berpenduduk mayoritas muslim. Delapan tahun di bawah kepemimpinan presiden Bush yang “gila” perang, membuat dunia merasa sudah cukup melihat darah dan air mata bercecer dimana-mana demi kekuasaan. Kepada lelaki yang pernah menghabiskan masa kecilnya di Indonesia inilah harapan itu diletakan.Bagi masyarakat Indonesia, Obama bukan hanya sekedar presiden Amerika, tetapi juga kemudaan usianya yang kemudian dijadikan idola kepemimpinan saat ini: yang muda yang bicara!

Dibalik harapan masyarakat dunia terhadap perubahan yang dijanjikan Obama, pesimistis terhadap kebijakannya menyikapi konflik Jalur Gaza melingkupi hari pelantikannya. Seperti yang diungkapkan mantan ketua MPR, Amin Rais, (Republika, kamis 22 Januari 2009) pesimistis Obama dapat melakukan perubahan signifikan atas konflik di Timur Tengah. Terlebih, katanya, Obama menunjukan sikap bungkam terhadap anggresi Israel ke Palestina. Amien juga menilaipidato Obama memperlihatkan arogansi Amerika Serikat (AS) atas dunia Islam. Obama mensyaratkan kerjasama jika jika dunia Islam tidak mengepalkan tangannya. Dan seruan itu tidak ditujukan kepada Israel.

Amerika dan Israel sejoli yang tidak dapat dipisahkan. Keberadaan Amerika yang tergantung pada keuangan orang-orang yahudi di Amerika tidak bisa memberikan langkah yang berdikari bagi siapapun yang menjadi Presidennya. Seperti kita tahu bahwa uang dan kekuasaan adalah satanic circle (lingkaran setan) dalam perpolitikan. Amerika dan israel berada dalam lingkaran itu, orang amerika bisa saja berkuasa, tetapi 40% orang kaya di AS adalah orang yahudi yang mempunyai lobi kuat untuk menyetir arah kebijakan AS. Ditambah lagi Hillary Clinton, mantan rival Obama pada penjaringan calon presiden dari partai demokrat yang kemudian menjadi menteri luar negeri dalam kabinet Obama, jelas-jelas mengatakan keberpihakannya pada israel. Sebenarnya kehawatiran kuatnya lobi yahudi di Amerika Serikat sudah diperingatkan oleh presiden pertama AS, Washington DC.

Indonesia sebagai negara berpenghuni muslim terbanyak se-dunia mempunyai peranan penting untuk membela hak-hak rakyat palestina, misalkan dengan cara boikot. Dengan jumlah penduduk yang banyak, pemboikotan adalah peran aksi yang terbaik ketimbang harus terjun ke medan perang. Pemboikotan produk-produk amerika di indonesia sebenarnya sudah di dengung-dengungkan sejak AS melancarkan serangan ke Irak dan Afganistan untuk pertamakalinya. Tapi realitasnya hal ini hanya sebatas wacana di meja-meja seminar dan media masa. Kenyataanya kita tidak pernah berani memobikot produk-produk yang sudah menjadi bagian gaya hidup kita setiap harinya. Disinilah letak kepintaran segelintir orang-orang Yahudi Amerika.

Amerikanisasi

Ketika kita baru berfikir boikot, mereka sudah menjadikan kita “pecandu-pecandu” produk mereka. Tidak hanya produk berbentuk makanan saja, tetapi juga fesyen, film, budaya dan pola pikir kita yang mengiblat ke Amerika. Seorang kritikus sosial dan sastra inggris, F.R. Leavis (1895-1978), yang secara langsung merespon budaya massa yang benar-benar baru lahir yang mengkiblat ke Amerika. Terlepas dari apapun soalnya, dia mengangkatnya sebagai dalil bahwa amerikanisasi merupakan sebuah fakta yang sudah tercapai:” adalah hal yang lumrah bahwa kita sedang di-Amerikanisasi”! Leavis adalah seorang kritikus masyarakat massa dan budaya massa, dan dia memandang Amerika sebagai suatu penjelmaan bahaya. Bahkan Hebdige menggambarkan bahwa Amerikanisasi mereprentasikan sebuah bentuk penurunan derajat!

Entahlah, pelantikan Obama mungkin saja “sedikit” perubahan arah kebijakan Amerika. Tapi ketika berkaitan dengan penjajahan gaya baru bernama Amerikanisasi, kita tidak bisa berbuat banyak. Karena saat ini virus tersebut sudah menyebar di otak kita. Memaksa kita menyeruput sedikit Coca Cola, memakai Jeans, ongkang-ongkang di Mc Donal, dan bergaya rambut ala Tom Hank atau Jhon Travolta!

 

*Mahasiswa TBI IAIN SMH Banten, Volunteer Rumah Dunia, bergiat di Lingkar Studi Sosial, Agama, dan Demokrasi (LISSAD) Banten.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

senyum pelangi II

senyum pelangi II

senyummu,
terlambat aku masukan
ke dalam cawan melatiku.
wanginya lenyap ditelan resah.
Kaukah itu?
Cintaku dengan lesung
pipit dipipinya?

Serang, 16 Juni 2008